TNI saat ini masih diperdebatkan beberapa pihak khususnya Komisi I DPR yang membidangi pertahanan. Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi PDIP, TB Hasanuddin menyatakan, pembelian tank bekas Belanda itu direncanakan menggunakan uang pinjaman dari luar negeri. Tank tersebut memang canggih tapi cukup mahal untuk tipe 2A4 : 700.000 euro dan tipe 2A6 : 2,5 juta euro ditambah biaya overhaull 800.000 euro per buah. "Total lebih dari Rp2,7 triliun untuk membayar 100 buah tank bekas tesebut dengan uang rakyat dari pinjaman luar negeri murni," jelas Hasanuddin melalui pesan BlackBerry messenger kepada INILAH.COM, Jakarta, Kamis (19/1/2012 ). Namun, ia belum mengetahui secara rinci dari mana uang pinjaman tersebut. Sebab, pihaknya belum mendapat penjelasan secara pasti dari pemerintah. "Iya pinjaman luar negeri, tapi dari mana asalnya kami tak tahu karena belum ada penjelasan," tandas mantan anggota TNI itu. Ia mengaku Fraksi PDIP di DPR akan menolak rencana pembelian tank bekas Belanda itu. Penolakan karena fungsi tank itu tidak sesuai dengan wilayah geografis di Indonesia. "Tapi beratnya yang 63 ton sangat tidak cocok untuk manuver di wilayah geografis di Indonesia yang gembur, terpotong potong bahkan berawa. Dan kurang taktis untuk sistem pertahanan pulau-pulau seperti di Indonesia," jelasnya. Hasanuddin mengigatkan, sebenarnya atas perintah presiden pada 2010, PT Pindad telah mengembangkan medium tank 23 ton yang lebih cocok dan sudah menjadi prototiphe tinggal dikembangkan. "Lebih ringan, lincah dan murah karena diproduksi anak bangsa.Kita setuju TNI dilengkapi Alutsista yang canggih, tapi harus cocok dengan doktrin pertahanan dan karakter geografis dan medan di Indonesia," paparnya. Sebagaimana diketahui, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo mengungkapkan, sampai saat ini pihaknya belum membahas khusus mengenai pembelian tank Leopard ini kepada Komisi I DPR. "Memang betul DPR belum menerima jawaban secara lengkap dari kami. Kami akan memberikan keterangan itu lebih lanjut," ujar Pramono Edhie Wibowo disela-sela Rapim TNI, di Mabes TNI Cilangkap, Rabu (18/1/ 2012).
berbagai macam alasan coba dilontarkan mulai dari yang terkesan masuk akal sampai ke alasan yang benar-benar "masuk akal". sedikit sekali komentar yang masuk akal serta mendukung pengadaan ini. padahal jika kita perhatikan sekali lagi, alasan diadakannya pengadaan MBT ini tidak hanya memperhatikan faktor internal seperti menuanya armada tempur yang dimiliki TNI. tetapi juga bertujuan untuk mengejar ketertinggalan dari negara" tetangga. kita tahu sendiri track record kita dengan negara tetangga cukup kurang baik. berbagai perselisihan di perbatasan kerap kali terjadi. warga negara kita yang bekerja di negara tetangga kerap kali mengalami perlakuan tidak adil dan juga penganiayaan. klaim sepihak tentang batas negara dan teritorialnya, serta puncaknya juga lepasnya 2 pulau kita ke negara tetangga.
seperti yang telah saya utarakan sebelumnya. bahwa di kawasan asean praktis tinggal indonesia, brunei darussalam dan philipina saja yang tidak memiliki MBT. philipina tidak memilikinya dikarenakan memang ada keterbatasan biaya. brunei juga tidak memilikinya karena mereka memiliki pola pertahanan yang memang tidak agresif. namun bagaimana dengan indonesia? dari segi finansial, kita sudah sanggup untuk melakukan pengadaan tersebut. namun proses pengadaannya saja berbulat-bulat.
ada beberapa anggota komisi I yang mengeluarkan berbagai macam statement seperti:
- MBT berat, tidak cocok dengan infrastruktur di indonesia
- BBMnya boros
- kenapa harus beli dari luar? tank bukan teknologi tinggi, PINDAD juga sudah bisa membuat tank tempur
- SMK saja bisa membuat mobil. indonesia bisa membuat tank tempur.
- harganya mahal. untuk membayar harus utang dari luar negri
masalah BBM yang boros, selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah performa yang tinggi.
harga yang mahal memang alasan yang logis. tapi mereka membandingkan MBT dengan tank tempur ringan. jelas tidak bisa dibandingkan. TNI bahkan sudah menantang kpk untuk mengawasi pengadaan ini. selain itu TNI juga sudah menantang anggota DPR untuk membandingkan dengan MBT sejenis.
mengenai SMK bisa membuat mobil, memang benar. tapi apakah ada perusahaan di indonesia yang sanggup memproduksi MBT dengan daya gempur, performa mesin, serta proteksi mumpuni?
bahkan APC roda rantai yang sudah ada prototipenya pun butuh waktu lama untuk membuatnya. juga tank ringan yang sedang dibuat prototipenya.
kalau diperhatikan, dirut PT PINDAD bapak Adik Avianto Sudarsono pun menyatakan bahwa MBT tidak bisa dibandingkan dengan tank ringan pindad.
jadi kalau mau berbicara lantang pak, tolong liat dulu apakah diri bapak sudah cukup benar atau belum
jerzeee